Friday, March 10, 2006

Dua Ketinggian by Khalil Gibran

Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat
Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang
di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni
dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa
yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka,
dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan
Sang Lelap.

Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan
kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan,
Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di
celah-celah kediaman - berhati-hati tidak
menyentuh apa-apa pun - sehingga tiba di sebuah
istana. Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa
sebarang halangan dan berdiri di sisi sebuah
ranjang , dan tika ia menyentuh dahi si lena,
lelaki itu membuka kelopak matanya dan memandang
dengan penuh ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia
menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk
kemarahan, "Pergilah kau dariku, mimpi yang
mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat!
Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau
memasuki istana ini? Apa yang kau inginkan?
Tinggalkan rumah ini dengan segera! Ingatlah,
akulah tuan rumah ini. Nyahlah kau, kalau tidak,
kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku
untuk mencincangmu menjadi kepingan!"

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi
sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan
tunduklah padaku."

Dan si lelaki itu menjawab, "Apa yang kau
inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau
cari? Kenapa kau datang ketika urusanku belum
selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kaya
berkuasa seperti aku? Pergilah sana, carilah
orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku
ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah dan
wajahmu yang bengis, dan mataku sakit menatap
sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu yang
meloyakan."

Namun selepas tersedar, dia menambah dengan
ketakutan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun,
jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, kerana
rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata
yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah
longgokan emasku semahumu atau nyawa salah seorang
dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku...
Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum
selesai dan berhutang emas dengan orang. Di atas
laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke
pelabuhan, permintaanku..jangan ambil nyawaku...
Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan
tinggalkanlah daku. Aku punya perempuan simpanan
yang luarbiasa cantiknya untuk kau pilih,
Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang
putera tunggal yang kusayangi, dialah sumber
kegembiraan hidupku. Kutawarkan dia juga sebagai
galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan
tinggalkan diriku sendirian."

Sang Maut itu mengeruh,"Engkau tidak kaya tapi
orang miskin yang tak sedar diri." Kemudian Maut
mengambil tangan orang hina itu, mencabut
nyawanya, dan memberikannya kepada para malaikat
di langit untuk menghukumnya.

Dan Maut berjalan perlahan di antara setinggan
orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling
daif yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati
ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan
kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak
muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut
berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara
penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang
Maut yang cantik. Sambutlah rohku, kerana kaulah
harapan impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku,
kerana kau sangat penyayang dan tak kan
meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi,
kaulah tangan kanan kebenaran. Bawalah daku pada
Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini."

"Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali,
namun kau tak jua datang. Tapi kini kau telah
mendengar suaraku, kerana itu jangan kecewakan
cintaku dengan menjauhi diri. Peluklah rohku, Sang
Maut yang dikasihi."

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya
ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut
nyawanya, dan menaruh roh itu di bawah
perlindungan sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke
belakang -- ke dunia - dan dalam bisikan amaran ia
berkata, "Hanya mereka di dunia yang mencari
Keabadianlah yang sampai ke Keabadian itu."

(Dari 'Dam'ah Wa Ibtisamah' -Setitis Air Mata
Seulas Senyuman)

1 Comments:

At 6:11 AM , Blogger nur mohamad said...

Kita nak pilih utk jadi sang pengharap atau yg tak bersedia langsung utk hadapi malaikat maut dan juga Allahu Rabbi.

Allah beri kami petunjukMu dan pertolongan agar selalu jadi hamba yg berislah dan semakin dekat denganMu. Supaya bila maut menjelma kami gembira kerana dapat bertemu denganMu dan tinggalkan dunia yg penuh fitnah, bala, kesedihan, ketakutan. (tp bagi wali Allah tidak ada kesedihan & ketakutan!)

As with all poems, perhaps reading it in the original language is best for 'feeling'. Kalau tak silap Khalil Gibran was a christian tp his ideology byk yg seperti Islam

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home