Tuesday, September 23, 2003

Usman Awang

Gadis Dan Ayat Suci

Suara yang manis dalam bisik daun-daun
Beralun lagu Tuhan di sayap angin malam
Redup menyusup di bawah langit bertirai sepi
Gadis tetangga (simpatiku pada matanya yang buta)
Dari sinar hatinya membaca ayat-ayat suci

Awan-awan berderetan dalam arakan sejarahnya
Di mana lagu dan suara menjangkau pula
Semakin tinggi, meninggi tak tercapai mata
Disaputnya langit di atas awan berarak
Gema merdu meresap mengocak ke bintang terserak

Lalu melayah menurun mengusap puncak gunung
Melayang manis mencapai bukit-bukit gundul
Menurun lagi merendah mencecah hujung pucuk-pucuk
Dari ranum dalam kembang-kembang segar senyum
Ah, merendah pula ia meratai bumi Tanahair

Semakin malam lagu Tuhan dari bibir syurga
(Gadis buta melanjutkan khatam bulan puasa)
Membawa para malaikat menjengah dada manusia
Hidup yang damai dari keyakinan dan cinta
Berdetiklah di hati, meski manusia paling ganas sekali

Suara yang manis dalam bisik daun-daun
Gadis cacat dan ayat suci beralun
Meski tidak melihat, malah itulah pula
Kesuciannnya syurga hidup perdamaian manusia
Berdetiklah di hati, meski manusia paling ganas sekali

( 1950 - Puisi-Puisi Pilihan Sasterawan Negara, DBP 1991)
( dipetik secara bebas oleh Imnogman )

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home